wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

Tinjauan Kritis Mengenai Dampak Status Sosial Kaunan dan To Ma’dika

Tinjauan Kritis Mengenai Dampak Status Sosial Kaunan dan To Ma’dika

A. MASYARAKAT
1. Definisi Masyarakat
Menurut pendapat para ahli, masyarakat dapat didefinisikan sebagai kumpulan orang-orang yang hidup di suatu tempat atau daerah yang diikat oleh suatu nilai-nilai yang disepakati bersama.
Seperti yang dikatakan oleh Peter L. Beger, yang dibahasakan oleh Bernard Raho, masyarakat diartikan sebagai satu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Lanjut Dia mengatakan, masyarakat disebut sebagai keseluruhan kompleks karena ia tersusun dari berbagai sistem dan sub sistem seperti: ekonomi, pendidikan, politik, pendidikan keluarga, kesehatan, dan lain-lain. Diantara sub-sub sistem itu terdapat jalinan relasi dengan norma-norma dan peraturannya sendiri.
Max Weber menjelaskan pengertian masyarakat sebagai suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya. Sama halnya dengan Email Durkheim membahasakan masyarakat sebagai suatu kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
Jadi, berdasarkan pandangan para ahli di atas, masyarakat dapat didefinisikan sebagai kumpulan orang-orang yang berinteraksi satu sama lain di dalam suatu wilayah tertentu yang diikat oleh struktur, nilai dan penghayatan pada suatu kebudayaan.
2. Ciri-Ciri dan Sifat-Sifat Masyarakat
Masyarakat tidak hanya dikenal dengan berkumpulnya banyak orang yang diikat oleh aturan atau nilai yang dibangun bersama, tetapi juga dapat dilihat dari ciri-ciri dan sifat-sifatnya.
a. Ciri-Ciri Masyarakat
Menurut Krech Crutchfield dan Ballachey, ciri-ciri masyarakat adalah berinteraksi, berorganisasi, dan berkegiatan kadang untuk kepentingan bersama dan kepentingan pribadi. Inti dari ciri-ciri masyarakat adalah berkegiatan dalam jumlah yang banyak untuk tujuan bersama dalam suatu rombongan atau bergotong royong.
Lebih jauh lagi, ciri-ciri masyarakat yang lebih dominan adalah memiliki budaya dan cenderung berkeyakinan. Maka dalam hal ini, dapat dikatakan ciri utama masyarakat adalah berkumpul, memiliki kepercayaan, sikap, memiliki sistem, dan terikat oleh suatu norma.

 

b. Sifat-Sifat Masyarakat
Sifat-sifat masyarakat di sini dapat dibedakan kedalam dua bagian yaitu sifat masyarakat desa dan kota. Sifat masyarakat desa pada umumnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budayanya, yang mana mereka kadang kaku namun pada umunya sangatlah ramah. Mereka juga memiliki perhatian yang khsusus pada kebutuhan pokok dan kadang fungsi-fungsi lainnya diabaikan.
Sifat masayrakat kota berbeda dengan masyarakat desa. Masyarakat kota selain memperhatiakan kebutuhan pokoknya, mereka juga sangat memperhatikan kondisi lingkungannya seperti menghidangkan makanan kepada tamu, kadang kala untuk memperlihatkan kedudukan sosialnya.
Jadi, sifat-sifat masyarakat di sini dapat dikatakan hidup untuk memperhatikan kebutuhan pokok, lingkungan sekitar, yang memperlihatkan keterkaitan dan ketergantungannya satu sama lain dalam sikap ramah komunikasi.

B. STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASAYARAKAT
a. Pengertian stratifikasi sosial
Menurut KBBI, stratifikasi adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise. Sedangkan sosial berkenaan dengan masyarakat.
Stratifikasi sosial menurut KBBI di atas berhubungan dengan tingkatan-tingkatan dalam masyarakat, yang juga merupakan satu fenomena sosial yang dikemukakan hampir pada semua kelompok masyarakat walaupun tingkatnnya berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain.
Menurut Hendropuspito stratifikasi adalah susunan berbagai kedudukan sosial menurut tinggi rendahnya dalam masyarakat. sedangkan menurut Pitirim A. Sorokin stratifikasi adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis)
Namun demikian, hampir semua stratifikasi sosial itu memiliki karakteristik yang membedakan satu kelompok dari kelompok lainnya yaitu melalui pengelompokan berdasarkan ketegori-kategori tertentu, seperti kekayaan, pendidikan, kekuasaan atau keturunan.
Menurut Bernard Raho, stratifikasi sosial juga dapat dibagi ke dalam dua sistem yaitu sistem kasta dan sistem kelas. Sistem kasta adalah suatu sistem stratifikasi sosial yang semata-mata didasarkan atas keturunan atau sesuatu yang diwariskan. Kasta merupakan suatu sistem yang sangat tertutup. Dalam sistem kasta, kemungkinan untuk terjadinya mobilitas sosial sangat kecil. Tiap-tiap orang sungguh-sungguh menyadari keanggotaannya di dalam kasta tertentu.
Sedangkan sistem kelas merupakan suatu system stratifikasi sosial di mana pencapaian atau prestasi seseorang menjadi pertimbangan yang sangat penting di dalam pengelompokan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok tertentu.
Salah satu hal lain yang membedakan sistem kasta dari kelas adalah konsistensi status. Konsistensi ktasus yaitu keberadaan seseorang pada status yang sama pada waktu yang lama. Konsistensi status juga berarti posisi tinggi dalam status tertentu mempunyai pengaruh terhadap status-status lainnya. Dalam sistem kasta, konsistensi sangat tinggi, hal itu bererti bahwa seorang individu bisa menduduki status pada waktu yang lama dan bahkan seumur hidup.
Jadi, strata sosial adalah tahap-tahap atau pengelompokan masyarakat sesuai dengan kedudukannya berdasarkan aturan dan tata nilai budayanya yang dibangun dan disepakati bersama dalam masyarakat.
b. Masyarakat dan Status Sosial
Penentu kelas dan status sosial seseorang adalah nilai-nilai yang dibangun bersama dalam suatu masyarakat. Dengan demikian status sosial tidak bisa terhindar dari pandangan sosial yang hidup berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.
Seperti yang terdapat di dalam buku yang berjudul Sosiologi, John Macionis mengartikan, status sosial sebagai tempat atau posisi yang di tempati atau dikontruksi secara sosial atau yang diduduki oleh seseorang di dalam masyarakat.
Di sini mau dijelaskan bahwa kedudukan status sosial tanpa masyarakat atau kelompok, menunjukkan bahwa status atau kedudukan itu bisa tidak akan nampak. Oleh sebab itu, masyarakat di sini sangat penting dan penentu adanya status atau kedudukan sosial yang lahir dari nilai-nilai atau norma yang dibangunnya bersama. Jadi, masyarakat dan status sosial merupakan suatu bagian integral yang tidak bisa terpisahkan.

 

C. KEBUDAYAAN DAN MASYRAKAT
a. Pengertian kebudayaan
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta budhayah. Dan menurut pendapat parah ahli seperti Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mereka mengatakan, bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. bersama dengan itu Herkovits, ia mengatakan bahwa kebudayaan adalah bagian dari lingkungan yang diciptakan oleh manusia.
Secara sederhana, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota dalam suatu masyarakat.
Dengan demikian kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun nonmaterial.
b. Substansi kebudayaan
Berbicara tentang substansi kebudayaan, adalah suatu kajian yang objeknya berorientasi pada masyarakat. Masyarakat sebagai substansi kebudayaan merupakan pusat dari kebudayaan, yang mana masyarakat itu sendiri yang membangun, mencipta dan mengembangkan kebudayaan.
Seperti yang terdapat dalam buku Antropologi; Dasar Pendekatan Lintas Budaya yang ditulis oleh Yakob Tomatala, bahwa, setiap budaya memiliki bentuk substansi yang materi (kelihatan ) dan non materi (yang tidak kelihatan). Substansi budaya yang materi dan non materi ini menyiapkan dasar-dasar untuk memahami model kebudayaan.
Substansi budaya dalam setiap kebudayaan itu sendiri dapat dipahami dengan melihat bahwa pada setiap kebudayaan ada bentuk budaya, yang di dalamnya terdapat arti dan fungsi atau kegunaan yang unik yang disebut sebagai nilai dasar perilaku. Bentuk, arti dan fungsi dari budaya inilah yang menentukan bahwa suatu kebudayaan itu adalah unik.
Lanjut Tomatalah dalam tulisannya menjelaskan bahwa arti dan fungsi dari substansi elemen-elemen budaya itu adalah berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Karena tidak semua kebudayaan memberi arti yang sama pada suatu bentuk elemen budaya yang sama.
Oleh sebab itu, di atas telah dijelaskan mengenai kebudayaan dan substansi yang melekat di dalamnya, dapat dibahasakan ulang bahwa kebudayaan dan substansi kebudayaan merupakan suatu kebiasaan yang sarat nilai untuk dijadikan sebagai pedoman atau dasar perilaku bersama dalam suatu masyarakat. Maka inti atau substansi dari kebudayaan itu adalah nilai sebagai dasar perilaku masyarakat atau orang yang menghidupinya.
c. Masyarakat tidak bisa lepas dari kebudayaan
Dikatakan masyarakat tidak bisa lepas dari kebudayaan karena, kebudayaan itu sendiri dikenal, dipahami, dan diamati di dalam masyarakat sekalipun lahirnya dari sebuah ide atu gagasan individu. Dalam kaitannya dengan kehidupan manusia yang notabenenya adalah mahkluk sosial dan berbudaya, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah sebuah kebudayaan.
Seperti definisi yang diberikan oleh Sir Edwar dalam buku Sosiologi jilid I yang ditulis oleh Paul B Horton, kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
kebudayaan dan masyarakat adalah dua kenyataan sosial yang tidak terpisahkan. Keberadaannya masing-masing saling mengandaikan satu sama lain. Di satu pihak kebudayaan mengandaikan keberadaan masyarakat dan dipihak lain tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan karena kebudayaan adalah produk manusia yang menjadi anggota masyarakat.
Jadi, masyarakat adalah penentu lahirnya, berkembangnya, perubahan dan bertahannya suatu kebudayaan. Oleh sebab itu, masyarakat juga adalah bagian integral dari kebudayaan yang tidak bisa terpisahkan.

D. STATUS SOSIAL ORANG TORAJA
1. Mengenal Orang Toraja
Sebelum kata ‘’Toraja’’ dipergunakan untuk nama suatu negeri yang sekarang dinamakan Tana Toraja, sebenarnya dahulunya adalah suatu negeri yang berdiri sendiri yang dinamai Tana Matari Allo (Tondok=Negeri, Lepongan, Kebulatan=Kesatuan, Bulan=Bulan, Tana=negeri, Matarik=Bentuk, allo=Matahari),. Artinya negeri yang bentuk pemerintahan dan kemasyarakatannya merupakan kesatuan yang bundar/bulat bagaikan bentuknya bulan dan matahari.
Nama atau kata Toraja ini sebenarnya mulai terdengar luas pada permulaan abad ke-17 yaitu pada waktu tondok lepongan bulan sudah mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan disekitarnya. Yaitu; kerajaan Bugis Sdenreng, Bone dan Luwu’.
Istilah Toraja merupakan suatu sebutan orang Gowa kepada penduduk yang ada di pegunungan. Yang mana bagian dari masyarakat pegunungan yang memakai nama ini adalah masyarakat yang hidup di daerah Tana Toraja dan sekitarnya, yang memiliki cirri khas tersendiri yang ditandai dengan adanya kebiasaan atau kebudayaannya.
Tana Toraja yang terletak didaratan tinggi Sulawesi Selatan dikenal dengan budayannya yang tidak ada kaitannya dan berbeda dengan budaya daerah tetangganya di daerah rendah. Ini menunjukkan bahwa perkembangan budaya dan adat-istiadat Tana Toraja tidak dipengaruhi oleh pola hidup maupun agama masyarakat sekitarnya; atau dalam kata lain dari dulu masyarakat Toraja bebas dari pengaruh kerajaan di sekitarnya.
Sejarah masyarakat Toraja yang berbeda budayanya dengan masyarakat di sekitarnya sangat sulit dilacak karena masyarakatnya tidak mengenal huruf untuk menulis atau mendokumentasikan kejadian-kejadian penting sebelumnya, seperti halnya dengan suku-suku local lainnya yang berbudaya khusus di Nusantara.
Toraa adalah nama asli suku Toraja yang mengandung arti sebagai berikut: TO adalah Orang, Tora adalah Aturan dan A adalah lambang Tongkonan. Jadi Toraa artinya orang yang hidup dengan aturan Tongkonan atau Adat dan Aluk Tongkonan. Ada’ Aluk na Pemali (AAP) selanjutnya dikatakan bahwa Toraa adalah: To Ungkasiri’ Nene’ Todolona; To Ungkasiri’ Rara Bukunna.
Konon nama Toraja berasal dari cara orang Bugis menamai orang-orang yang berasal dari daratan tinggi Sulawesi Selatan dan Tengah. To artinya Orang dan Riaja (dari atas). Sebutan ini juga digunakan oleh orang Makassar yang akhirnya menjadi Toraja. Lain halnya dengan versi orang Toraja, Toraja diartikan sebagai ‘’To Raya (maraya)’’.
Selain dari pada nama yang berasal dari Toriaja tersebut ada beberapa budayawan Toraja yang mengatakan pula bahwa kata Toraja itu berasal dari kata To Rajang yaitu kata bugis Luwu’ yang artinya orang Barat/ sebelah Barat (To=orang, Rajang=barat). Berhubungan karena kerajaan Luwu’ itu terletak disebelah Timur dari Tondok Lepongan Bulan dan Tondok Lepongan Bulan terletak disebelah barat dari kerajaan Luwu’.
Pada mulanya suku Toraja oleh nenek moyang dinamakan TORAA. Mengapa sekarang ini menjadi orang Toraja karena perkembangan sejarah bahasa Indonesia. Secara evolusi dapat dikemukakan perubahan seperti: Toraa-Toriaja, Toriaja-Tomaraya/Toraya, Toraya-toraja.
Proses Toriaja menjadi Toraya atau To maraya terjadi oleh karena sopan santun leluhur orang Toraja itu cukup tinggi dinampakkan kepada dunia luar. Pemimpin yang digelar Siambe’, Puang Tallu Lembangna Tallu Batu Papan, Ma’dika Matasak dan Kayu Kalandona Tondok disegani karena Adat Aluk Na Pemali. Penampilan mereka ke dunia luar cukup menyakinkan karena memiliki wibawah kepemimpinan yang disebut tallu silosok, yaitu: Manarang na Kinaa, Sugi’ Barani, na Bida.
Dikatakan Bida jika seseorang dapat mengenal silsilah lima keatas dan lima kebawah yaitu: Nenek Todoan, Nenek Salemberan, Nene’ Uttu’ Nene’ Mammi’, Tomatua, Saudara, Sepupu satukali, Sepupu duakali, Sepupu tigakali, Sepupu empat kali, tanda indok, na tanda ambe’ . Itulah yang dikatakan Bida.
Akhirnya dengan perkembangan bahasa Indonesia dengan muda nama suku Toraya berubah menjadi Toraja, Suku Toraja, orang Toraja dan daerah Tana Toraja. Yang mana nama golongan ini menjadi suatu kategori atnis suku budaya di Sulawesi Selatan, dan terdaftar sebagai salah satu suku budaya yang ada di Sulawesi Selatan ini, diantaranya etnis suku Bugis, etnis Makassar, etnis Mandar, dan etnis Toraja.
Jadi, orang Toraja adalah sekumpulan masyarakat yang hidup di daerah pegunungan yang diikat oleh budaya strata sosial dan aluk sola pemali. Mereka dikenal sebagai orang yang bebas dari kekuasaan daerah atau kerajaan luar di daerah sekitar dataran rendah. Mereka ini menyebut dirinya sebagai masyarakat yang hidup mendiami tana lepongan bulan, tana nagonting matari allo, sia tondok bulawan tasak.
Mengangkat julukan tanah leluhur orang Toraja di atas, menjadi suatu keunikan sebutan pada wilayah mereka. Sebagaimana negeri bulat bersatu bagaikan bulan yang mendapat sinar matahari pertama, sehingga sebutannya menjadi dalam sebagai daerah bulawan tasak.
2. Stratifikasi Sosial Orang Toraja
Orang Toraja mengenal tiga kelompok sosial yang primer: tongkonan, tondok, dan saroan. Masing-masing kelompok itu penting bagi hubungan sosial tertentu. Tongkonan menyangkut keterikatan keturunan; tondok mengacu kedudukan lokal tiap-tiap individu, dan saroan merupakan kelompok orang yang ‘’ makan dan bekerja bersama-sama’’.
Adanya ketiga kelompok tersebut tadi menentukan kedudukan setiap orang Toraja. Tetapi, di samping dan sehubungan dengan itu, posisi setiap orang di dalam masyarakat tergantung juga dari kedudukan sosialnya. Masyarakat Toraja berlapis; terdapat sistem kelas-kelas, yang menentukan posisi setiap orang. Sistem itu berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan para dewa dan dengan demikian termasuk tatanan kehidupan.
Masyarakat Toraja sejak dari dulu mengenal beberapa tingkatan masyarakat yang dinamakan Tana’ (kasta), seperti halnya pada suku-suku bangsa lain di Indonesia yang sangat mempengaruhi pertumbuhan masyarakat dan kebudayaan Toraja dan sehubungan dengan lahirnya aturan dalam aluk todolo, dan Tana’ atau kasta tersebut dikenal dalam 4 susunan atau tingkatan masing-masing:
1. Tana’ bulaan (bangsawan), adalah lapisan masyarakat atas atau bangsawan tinggi sebagai pewaris aluk, yaitu dipercayakan untuk membuat aturan hidup dan memimpin agama, dengan jabatan tuan, maqdika, dan sokkong bayu (siambeq). Nilai hukumannya dengan 12 (dua belas) sampai dengan 24( dua puluh empat) ekor kerbau (tedong sangpala’)
2. Tana’ bassi (kasta bangsawan menengah) , adalah kasta yang menjabat jabatan pembantu atau anggota pemerintahan adat seperti jabatan-jabatan anak Patalo/ To Bara’ dan To Parenge’-Toparenge’. Nilai hukumannya dengan 6 ekor kerbau tedong sangpala’.
3. Tana’ karurung (kasta rakyat merdeka atau orang kebanyakan) , kasta yang menjabat pembantu pemerintahan adat/ serta menjadi petugas/ Pembina Aluk Todolo untuk urusan aluk patuoan, Aluk tanaman yang dimakan To Indo’ atau Indok Padang. Nilai hukumannya dengan dua ekor kerbau tedong sangpala’
4. Tana’ kua’-kua’ (kasta hamba sahaya) , dalam mitos Toraja, golongan ini keturunan dari Pong Pakulando, budak To Manurun pertama yang juga di turunkan dari langit. Kasta ini juga yang menjabat jabatan petugas/pengatur pemakaman atau kematian yang dinamakan To Mebalu atau To Ma’kayo (orang yang membungkus orang mati) dan juga sebagai pengabdi kepada kasta Tana’ Bulaan dan Tana’ Bassi. Nilai hukumnya dengan 1 ekor babi betina yang sudah perna beranak namanya bai doko (babi kurus)
Menurut falsafah Aluk Todolo sebagai berpijaknya kebudayaan Toraja menyatakan bahwa adanya Tana’ ini adalah berkaitan dengan tugas dan kewajiban manusia dalam mengamalkan Aluk Todolo.
Dari keempat golongan lapisan sosial tersebut merupakan dasar atau pedoman yang dijadikan sendi bagi kebudayaan kehidupan sosial masyarakat Toraja, terutama dalam interaksi dan aktifitas masyarakat, seperti pada saat diselenggarakan upacara perkawinan, pemakaman, pengangkatan ketua atau pemimpin adat dan sebagiannya. Misalkan dalam upacara pengangkatan seorang pemimpin, yang menjadi penilaian utama adalah dari golongan apa yang bersangkutan berasal.
Di dalam setiap tana’. Khususnya dalam golongan yang paling rendah (tana’ kua-kua’), terdapat pembagian lebih jauh. Yang paling rendah ialah budak seorang budak, yang disebut kaunan tai manuk.
Jadi, orang Toraja mengenal beberapa tingkatan strata sosial, dan stara sosial yang paling tinggi pada mereka adalah tana’ bulaan dan strata yang paling rendah adalah tana’ kua’-kua’.

E. TO MA’DIKA DAN KAUNAN
1. To ma’dika
Daerah yang dikenal dengan Tallulembangna adalah Sangngalla’, Makale, dan Mengkendek. Ketiga daerah ini merupakan daerah yang berada di bawah tiga persekutuan adat bagian selatan Tana Toraja, yang mempunyai struktur kemasyarakatan yang sama.
Daerah Sangalla’ dikenal dengan sebutan ma’dika matasak, Malake dan sekitarnya dikenal dengan sebutan ma’dika atau to sindo’ dan siambe’, sedangkan di daerah Mengkendek dan sekitarnya dikenal dengan sebutan puang atau to parengnge’.
Seperti biasanya, posisi to ma’dika sama dengan posisi pemimpin di daerah tallu lembangna, yaitu parengnge’, puang, dan ma’dika matasak. Sekalipun dalam perspektif kekinian, ketiga sebutan yang sama posisinya di tiap-tiap daerah kedudukan adat tersebut dipahami seolah berbeda. Ada yang mengartikan ma’dika sebagai orang kaya, orang banyak, dan pemimpin. Tentu tidak bisa dibantah apabilah dialaskan pada daerah atau wilayah adatnya masing-masing. Namun pada awalnya, posisi-posisi tersebut sekedudukan.
Menghubungkan dengan daerah Puru bagian daerah Toraja Barat sekitar Makale, orang ma’dika dipahami dengan sekelompok masyarakat yang tergolong para pemimpin. Mereka adalah to bendan, yaitu orang yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam suatu lembang atau tongkonan layuk. Mereka adalah pemimpin adat sebagai pemerintah dan penata keadatan bersama dengan tokoh-tokoh berdasarkan struktur mereka.
2. To ma’dika sebagai status tana’ bulaan
Sebagaimana to’madika adalah para bangsawan, mereka juga adalah orang yang bertanggung jawab menghidupi orang-orangnya. Dengan penggunaan istilah bangsawan mereka, menunjukkan mereka memiliki bawahan atau hamba. Sumber kekuatan mereka adalah ekonomi, keberanian dan kebaikan.
Karena ekonominya yang banyak, maka tidak heran kalau ada orang bergantung padanya. Mereka itulah yang disebut to kaunan. Mereka dikatakan bangsawan, karena pada mereka memiliki hamba, dan hamba inilah yang membuat mereka disebut pemilik, penguasa dan penentu, (to puang, to parengnge’ dan to ma’dika).
Perlu dikatehui bahwa status golongan to ma’dika dikatakan bangsawan ini tidak perlu disalah pahami dan dikaitkan dengan pandangan lain selain dari pandangan aluk sola pemali yang tertata dalam kebudayaan mereka secara turun temurun yang tidak terjadi tanpa permulaannya.
3. To Kaunan (hamba)
To kaunan adalah posisi seseorang di dalam masyarakat yang kerap kali disebut sebagai seorang hambah atau budak. Mereka adalah orang-orang yang sepenuh dari hidupnya bekerja dan mengabdikan dirinya kepada tuannya. Status golongan ini dikategorikan sebagai orang-orang yang tidak merdeka dan bebas melakukan kegiatan sesuai dengan kehendak hatinya tanpa perintah atau komando pemimpin mereka.
Hidup menjadi kaunan adalah hidup dengan penuh pengadian kepada seorang tuan, dan di sisi lain kebutuhan hidupnya ditanggung penuh oleh tuannya. Karena seseorang tidak bisa hidup dengan sendirinya, tidak bisa hidup dengan bebas menghidupi dirinya, maka ia memperhambakan dirinya kepada orang yang kaya. Jika menelusuri proses lahirnya kaunan, di sini penulis memberikan sekilas informasi sesuai dengan data yang tertulis. Lahirnya kaunan, sering disebut sebagai penyimpangan terhadap nilai-nilai yang telah disepakati dalam kelompok masyarakat tertentu. Penyimpangan inilah yang disebut sebagai pelanggaran (unnala sala).
Karena tidak mampu membayar denda, maka ia bergantung pada orang lain seperti keluarganya. Setelah keluarganya menebus kesalahannya,ia tidak bisa menunjukkan rasa terima kasih sehingga tindakannya menimbulkan sakit hati terhadap keluarganya. Karena orang yang telah menebus kesalahannya merasa tidak diberlakukan secara baik, maka ia mengajukannya kepada aturan sebagaimana yang telah disepakati bahwa orang tidak bisa membayar dendanya dan ditebus dengan orang lain, maka ia menjadi hamba orang tersebut. Di sinilah salah satu data awal terbentuknya kaunan, dengan cara tebus dan menebus.
Selain dari itu, terbentuknya kaunan juga secara takluk menaklukkan. Sesuai dengan kebiasaan orang dulu yang sering bermusuhan dan saling menyerang, yang kalah menjadi tawanan perbudakan. Dan kebanyakan mereka yang kuat menjadikan taklukan mereka sebagai budak atau hamba. Ada yang membawanya ke daerahnya, dan juga menjualnya.
4. Golongan-Golongan To Kaunan
Di sini mau dijelaskan secara singkat mengenai beberapa golongan kaunan yang sering dan kebanyakan dibicarakan oleh orang Toraja. Adapun kaunan yang sering menjadi pembicaraan dan serasa tidak diindahkan adalah sebagai berikut:

 

a. Kaunan biasa (mana’)
Kaunan biasa atau kaunan mana’ merupakan golongan hamba dalam versi Rantepao adalah kua’-kua’. Golongan ini adalah termasuk hamba yang diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu oleh tuan atau orang bangsawan yang memperhambakannya.
b. Kaunan mangranduk
Golongan ini sebenarnya bukan dari keturunan hamba, tetapi karena berbagai kesulitan seperti kelaparan dan utang, maka ia mangranduk kepada orang lain, apakah saudaranya atau orang dimana ia meminjam.
Golongan ini berasal dari golongan bangsawan atau merdeka, namun karena kesulitan seperti nalambi’ sumpunna kurin, maka ia mangranduk atau massaro yaitu bekerja untuk mendapat makanan. Atau karena tidak mampu membayar utang, maka ia memperhambakan dirinya kepada orang yang memberinya pinjaman.
c. Kaunan dialli
Proses jual beli secara barter pada kebiasaan orang dulu, juga membuat awal terbentuknya kaunan. Nilai hamba sama dengan nilai benda mati atau binatang. Setelah dibeli atau terjual, maka orang yang membelinya menjadikannya kembali sebagai budaknya. Dari golongan hamba inilah yang sebenarnya disebut sebagai kaunan mana’ atau kaunan tiparanduk.
Pada kebiasaan orang dari golongan bangsawan, hamba ini menjadi harta warisan secara turun temurun. Karena telah menjadi harta secara turun temurun, maka tidak heran kalau dulunya ada orang Toraja menjual hambanya secara barter. Hamba inilah yang orang Toraja sebut sebagai kaunan mana’ juga sebagai kaunan tiparanduk.
d. Kaunan Tai Manuk
Kaunan tai manuk adalah kaunan (hamba) yang sangat hina, di perhambakan juga oleh hamba yang lain. Kaunan ini berasal dari kaunan yang menghambakan diri kepada kaunan lain.
Jika diperhatikan secara saksama, golongan hamba ini adalah bagian dari status kedudukan dalam masyarakat Toraja yang paling rendah dan hina. Oleh sebab itu, tidak banyak orang Toraja yang berstatus tana’ bulaan dan tana’ bassi menyetujui perkawinan anaknya dengan orang yang berstatus hamba apalagi yang namanya hamba tai manuk.
Untuk itulah golongan hamba di Toraja selalu mendapat pandangan rendah di mata masyarakat. Terutama dalam hal ini, orang Toraja sekalipun hidupnya terbatas (pas-pasan), ada satu hal yang mereka paling syukuri yaitu “ namoi ka dikka to mase-mase ki, pa tangia sia ki to didedekan palungan, sia tangia sia ki to dipadio pedollok”
Ini berkesan sangat dalam bagi kehidupan di Toraja, bahwa tidak ada duanya menjadi seorang yang berasal dari keturunan non-budak. Oleh sebab itu, hidup masyarakat di Toraja sangat menjunjung tinggi yang namanya kedudukan.
Kendati status dalam diri orang Toraja terbagi dalam beberapa bagian, namun mereka tetap menganggap hambanya (kaunannya) sebagai bagian dari keluarganya. Itu nampak pada ungkapan to ia tomai solata, ampo.
e. To Kaunan sebagai tana’ Kua’-kua’ dan kekuatan ekonomi
Kaunan sebagai kekuatan ekonomi to ma’dika karena semua pekerjaan dan usaha to ma’dika diselesaikan oleh budaknya. Mereka dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan tuannya. Mereka tidak bisa menolak atau membantah perintahnya.
Karena mereka adalah hamba tuannya, maka apapun perintah dari tuannya tentu dilakukan sesuai dengan tugas arahan dan perintah tuannya. Seperti halnya dalam mengelolah tanah, ternak, dan usaha tuannya. Dari hasil usaha mereka, memberi keuntungan banyak kepada tuannya dibanding dengan keuntungan pribadi mereka sendiri.
Kehadiran mereka menjadi sumber penghasilan bagi orang ma’dika sebagai tuannya. Apabilah mereka menolak, ia harus memenuhi permintaan tuannya (melunasi bayaran mereka). Berapa pun permintaan tuannya, ia harus membayarnya supaya ia bisa harus bebas, namun apabilah mereka tidak mampu membayarnya, mereka tetap menjadi budak atau kaunan tuannya.
Mereka dikatakan kekuatan ekonomi to ma’dika karena pekerjaan dan hasil usahanya sepenuhnya hanya untuk tuannya. Sekalipun juga tuannya memiliki kewajiban untuk memperhatikan kebutuhan mereka. Seluruh hidupnya, seluruh pekerjaannya, dan seluruh nyawanya, sepenuhnya ada ditangan tuannya. Jadi sangat menentang menjadi seorang kaunan pada zaman itu. Maka sangat wajar orang ma’dika melarang keras apabilah keturunannya berhubungan dengan orang kaunan, apalagi mau masuk ke dalam pernikahan.

F. LANDASAN TEOLOGIS
Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah, yaitu menciptakan manusia dengan akal budinya untuk berbudaya. Tuhan menciptakan manusia untuk kemuliaanNya, dan manusia membuat rancangan untuk ketentraman dan kenyaman hidupnya untuk mempermuliakan Penciptanya. Untuk itulah manusia disebut sebagai mahluk sosial dan berbudaya.
Posisi manusia diciptakan segambar dengan Allah menentukan dirinya sebagai mahkluk yang berbudi pekerti dan bebas mengaplikasikan apa yang dianggapnya layak dan baik. Terutama dalam hal ini, manusia bisa berkenan merancang budaya yang sarat akan nilai-nilai yang bisa dijadikannya sebagai pedoman hidup untuk tenang, seperti halnya memilih untuk hidup berkeyakinan (menyembah Tuhan sebagai penciptanya) baik dengan jalan beragama maupun dengan cara lain seperti memiliki budaya dan aluk.
Seperti pemazmur dan Tokoh-tokoh lainnya yang selalu menyandarkan dirinya kepada Tuhannya, bahwa segala sesuatu yang dibutuhkannya, baik kekuasaan, kekayaan, dan lain-lainnya, ia menyadarinya bersumber dan diberikan oleh Tuhannya. Dan mereka selalu menyadari dirinya sebagai orang terbatas dan penuh kelemahan yang harus bersandar dan bergantung kepada Tuhan sehingga mereka bisa bebas dari bencana penderitaan. Oleh sebab itu, ia memilih untuk memposisikan dirinya sebagai hamba yang memohon belas kasihan kepada Tuhan. Untuk itulah sang pemazmur selalu menyanyikan lagu penyembahan, pujian dan syukuran dan permohonan atas jalan hidupnya, memuji dan menyembah Tuhan yang maha agung dan kuasa. Sebagai bentuk penghormatan dan penyembahannya.
Menjadi seorang hamba adalah sebuah cara hidup yang sangat terbatas dan penuh dengan ketergantungan serta pengabdian kepada seseorang atau tuan. Seperti tokoh-tokoh terbesar dalam Alkitab Perjanjian Lama, Abraham, Isak, Yakub, Daud, dan Salomo. Mereka semua memposisikan diri sebagai pribadi yang bergantung penuh kepada Tuhan. Dengan keyakinan bahwa sumber kehidupan adalah diyakini berasal dari TUHAN, Abraham sungguh percaya bahwa ia harus patuh kepada Tuhannya. Mengapa, karena Abraham percaya bahwa Tuhan memberi apa yang ia butuhkan dan perlukan.
Demikian halnya dengan Isak, Yakub, Daud dan Salomo, mereka percaya bahwa Tuhan memimpin mereka, dan mereka merasa nyaman, tenang karena seluruh keperluan hidupnya ditanggung oleh Tuhan. Oleh sebab itu, mereka menjadikan dirinya sebagai milik Tuhan. Dan sebagai milik Tuhan, mereka harus tunduk menyembah dan berbakti kepada-Nya, dan jika mereka memberontak dan berpaling dari pada-Nya, maka mereka akan mengalami hukuman.
Dengan memperhatikan sejarah tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama di atas, dapat dikatakan bahwa manusia tidak bisa bebas semau-maunya, dan memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri selain mengikuti petunjuk dari Tuhan. Dengan menghubungkan keadaan seperti itu dengan status seseorang di dalam masyarakat, hamba yang dalam hal ini dikenal sebagai orang yang harus “berbakti” tidak bisa disangkali. Sekalipun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa para raja dan pemerintan adalah wakil Allah di bumi, dapat pula dikatakan mereka juga adalah hamba Allah. Demikian juga hamba dalam perjanjian baru yaitu Onesimus dengan Filemon, dimana Onesimus sebagai hamba ia tidak menghormati tuannya dan telah bertindak keji terhadap tuannya, sehingga filemon marah dan ingin menghukumnya. Tetapi karena kemurahan hati dari Filemon maka, ia menerimahnya kembali sebagai saudara seiman, sekalipun dalam diri onesimus masih berstatus sebagai hamba.
Oleh sebab itu, yang mau dikatakan ialah baik pemerintah, maupun umat biasa, kita semua adalah para hamba yang harus mengabdi kepada Tuhan. Sekalipun posisi jabatan berbeda-beda, tetapi kedudukan semua orang sama, baik di mata Tuhan maupun di mata hukum. Sekalipun mereka adalah keturunan bangsawan dan keturunan merdeka, mereka semua diberlakukan sama di mata Tuhan yaitu harus dikasihi, (lihat Mat.22:37-40) dan bertindak seadil-adilnya sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Indonesia.
Ma’dika menjadi hamba masyarakatnya, dewan menjadi hamba masyarakatnya, kepala lembang, pendeta, presiden, semua memiliki beban. Oleh sebab itu status seorang hamba ada pada setiap diri manusia, baik menjadi kepala keluarga, ibu rumah tangga, guru sekolah, dosen akademik, dan lain-lain, hamba tidak bisa di sangkali. Oleh sebab itu, arti kata kaunan jangan dipahami terlalu sempit dan melekatkannya hanya kepada mereka yang berasal dari keturunan orang yang diperbudak.
Akan tetapi, bagi orang Toraja khususnya yang berdiam di dusun Puru, status sebagai hamba hanya dipahami pada pengertian kedudukan yang amat rendah dan hina. Sebagian dari mereka belum memahami bahwa status sosial hamba sebenarnya ada pada diri setiap orang. Dengan adanya fenomenal tersebut, tidak jarang orang Toraja mau disebut sebagai keturunan hamba (kaunan).
Suatu hal yang penting untuk dipahami ialah sekalipun status yang ada pada diri masing-masing adalah tana’ bulaan, tana’ bassi, status hamba juga ada yaitu mengabdi baik kepada keluarga, masyarakat, terlebih dalam hal ini aluk masih mengakar dalam diri dan seluruh aktifitas menyatu, itulah sebabnya budaya Toraja adalah budaya disertai dengan keyakinan.
Tidak ada lagi kedudukan yang perlu untuk, dihina, dan dihindari, karena kedudukan semua orang sama di mata hukum dan di mata Tuhan. Semua hidup ini sudah ditempatkan pada posisinya masing-masing, dan itu mesti hadir dalam kesadaran setiap orang baik kaunan maupun to ma’dika. Posisi itu mesti menjadi alasan tersendiri yang perlu diakui telah ditentukan oleh dewata sebagai Tuhan yang maha kuasa, dan dengan alasan ini pun mesti dijadikan sebagai pedoman untuk bersikap baik, adil, dan penuh kasih terhadap sesama manusia.
Seperti pada pergumulan sebagian dari orang Toraja yang merasa dirinya hamba (kecil), mereka selalu menempatkan dirinya sebagai orang yang tidak pantas, tidak layak bergabung hidup dalam interaksi sosial apalagi dalam hal percintaan. Pergumulan itu jelas nampak pada syair lagu-lagu pop recorder Toraja yang diciptakan sesuai dengan konteks sosial di mana para pengarang hidup dengan seseorang yang tertolak karena statusnya rendah. Misalnya dapat didengar dan rasakan pada lagu-lagu berjudul “anak tobulo diapa’, ma’rara puang, dan lain-lain.
Dari pergumulan itu mengisyaratkan status hubungan antara to kaunan dan ma’dika dalam konteks ke-Toraja-an sangat memprihatinkan. Sebagai manusia Toraja Indonesia, harus memahami bahwa kedudukan janganlah menjadi pagar batas yang mencederai hubungan dengan orang lain, dan janganlah memandang status sosial sebagai satu-satunya jalan hidup sejahtera, tetapi jadikanlah hukum yang berlaku di Negara kita yakni agama dan UUD sebagai pedoman untuk cara hidup merdeka, bahagia dan sejahtera.
Oleh sebab itu, jangan ada lagi perselisihan karena alasan status kaunan atau ma’dika, tetapi harus saling menerima satu-sama lain dengan satu-satunya alasan “kemanusiaan”, supaya kehidupan baik bermasyakat maupun bergereja bisa bergerak maju untuk mewujudkan masyarakat baru yang penuh damai dan keadilan. Oleh sebab itu, agama dan hukum di Negara kita mesti mendapat tempat yang utama di dalam kehidupan bermasyarakat, supaya hidup yang disertai dengan kebiasaan (adat) tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Dan untuk mencapai hal ini, tindakan baik pemerintah, terutama gereja, keduanya sangat menentukan.
Di sinilah tugas dan tanggung jawab gereja, yakni harus mampu mewujudkan masyarakat baru yang penuh dengan cinta, damai dan keadilan yang tidak memupuk perselisihan karena status sosial. Maka dari itu, gereja mesti bertindak hati-hati dan terus membina-merawat tatanan adat yang berlaku. . tanpa harus melakukan reboisasi besar-besaran di kantong-kantong masyarakat budaya yang ada di Toraja dan mengabaikan dampak buruknya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..