wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

SARJANA TERPENJARA DI KOST

SARJANA TERPENJARA DI KOST

Lelah dan tak berdaya si Anas menghempaskan tumpukan nafasnya selang menikmati air minum yang di masaknya. Sambil menguping suara motor dan mobil yang lalu lalang di jalan raya depan rumah ia ngekontrak. Hanya sebidang sawa saja yang mengantarainya di antara jalan poros tempat orang berlalu lalang. Si Anas pun tak bisa bergerak lebih jauh dari kostnya untuk bergabung dengan keluarganya. Sepertinya si Anas hanya bisa hidup di kost mengarungi nasib.

Usai wisudahnya selang berjalan dua tahun, belum ada pertanda bahwa si Anas telah meraju menempati sebuah pekerjaan. sepertinya ia hanya bisa duduk di  kost sederhananya dengan menghabiskan waktu yang terus membawa masa tua. Kini ia sudah berumur 24 tahun, namun belum juga sebauh kertas uang menempel di kantng celananya, apalagi tersimpan di dompet kusutnya.

Berjalan di sekitar kost sambil melayangkan matanya ke langit yang tampak mendung dan cerah. Musim terus bergangti, si Anas masih terus di kontrakan kostnya. Hidup yang serba terbatas, makan apa yang ada, tak lebih adalah seorang pengimis jalanan. Untuk mengisi perutnya, si Anas pun berpikir seribu kali untuk bisa mendapatkan sebuah makanan. Ingin minum kopi, makan nasi panas dan makanan ala yang wajar, si Anas telah ketinggalan. Kini nasib si Anas hanya bisa dipantau dari jauh oleh para kawannya yang baik hati, melihat dia rasa kasihan terlalu cepat meleleh, karena si Anas tersebut hanya tau hidup di kost dengan usaha yang tidak jelas.

Cemberut wajahnya yang kusam tak terawat, si Anas lalu berjalan ke tetangga kosnya membuat kopi, memasak makanannya, ibarat hidup hanya bisa menjadi sebuah benalu yang hanya  bisa makan karena orang lain. Hidup serupa seperti itukah kawan?

Kini musim terus berganti, waktu demi waktu terus berjalan, bulan dan tahun terus pun berganti, si Anas seorang sarjana masih terus hidup di kostnya yang belum lunas. Tiada masa depan yang cerah baginya. Seperti pintu-pintu rumah akan terus tertutup dan matahari berubah menjadi gelap jika hendak si Anas akan melangka keluar dari kamar kostnya menoleh suasana dunia luar yang tidak digeludi sebidang sawah tuan rumah.

Sebagai lelaki yang mesti menjadi tulang punggung keluarga, Anas belum mampu mewujudkan hal demikian. Tak tahu ia berkeingan untuk menjadi apa.Menderita tak perna ada habisnya, namun si Anas masih bertahan mengalaminya. Nasib, mengapa engkau mengurungnya di sana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..