wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

Representatif Tokoh dalam Agama Islam dan Kristen untuk Pancasila

Representatif Tokoh dalam Agama Islam dan Kristen untuk Pancasila  – Jika pembahasan dogma agama lepas dari tokoh-tokoh besar dengan ajaran yang dihudipi para penganutnya, penulis merasa pembahasan itu sangat rancu dan tidak lengkap. Dengan alasan itu, penting membahasnya walaupun penjelasan itu sangat singkat namun tetap menjadi pelengkap.

1. Muhammad dan Islam

Bagi Islam, Muhammad adalah seorang nabi dan rasulullah terakhir Allah SWT. Muhammad lahir di Mekah, Arab, pada tanggal 2 Agustus tahun 570 (hari kedua belas, bulan Rabiya, pada kalendar bulan). Ayah Muhammad meninggal sebelum ia lahir, dan Muhammad adalah anak pertama dan anak satu-satunya yang lahir bagi ibunya. Sejarah Islam mencatat beberapa rincian lainnya, tetapi ada sebuah kisah tentang malam ketika ia dilahirkan. Kisah ini diceritakan oleh salah satu pengikut awal Muhammad yang mengatakan,

Ibuku menceritakan bahwa ia melihat Aminah Binti Wahab, ibu dari Rasul Allah, melahirkan pada malam Muhammad lahir, dan ia (ibu Muhammad) berkata, “Tidak ada yang aku lihat pada malam itu selain daripada terang. Aku melihat bintang-bintang mendekati aku, hingga aku berkata mereka akan jatuh menimpaku.”

Dengan kata lain, ketika Muhammad lahir, ibunya menyatakan bahwa pada malam itu begitu terang hingga sepertinya bintang-bintang turun ke bumi. Sesuai dengan kata-kata kitab suci Al-Qur’ an sebagai wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Ma-ha Kuasa kepada Muhammad, diungkapkan bahwa ia adalah seorang nabi yang menerima wahyu Allah di gua Hira. Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu ber-usia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan (dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris di-tulis: “malam ke 27 bulan Ramadhan). Dalam gua malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya: Baca!” atau ‘nyatakan! atau ‘bawakan!

Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pa-da daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun.

Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan pada diskusi, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Injil – Ulangan 18: 18).

2. Yesus dan Kristen

Demikian bagi kekristenan, Yesus tidaklah sekedar nabi atau imam tetapi Ia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia. Yesus lahir diperkirakan pada tahun 4 dan 5 Masehi di Yerusalem kota Betlehem dari seorang perawan yakni Maria istri Yusuf. Allah yang berinkarnasi (incanatio= menjadi daging) dalam diri Yesus sebagai Anak-Nya yang tunggal melalui Maria .

Perumusan Kristologi Kristen terjadi pada Konsisli Chalcedon 451 M, suatu kota yang terletak di pantai timur Bosphorus, berhadapan dengan Konstantinopel, dikenal dengan Konsili Oikumenis IV. Keputusan-keputusan dogmatisnya ialah bahwa pribadi Yesus itu pertama-tama adalah bertabiat Allah-manusia, yaitu dari Dia yang menjadi daging, adalah identik dengan pribadi Logos ilahi; dan kedua, bahwa di dalam pribadi Logos yang berinkarnasi ini yang ilahi dan yang manusia selaras, tetapi tidak bercampur baur.
Louis Berkhof menambahkan, natur dan pribadi Yesus hanya ada satu saja, satu dalam Pengantara: Logos yang tidak dapat berubah. Logoslah yang memperlengkapi pribadi Yesus, maka tidak benar kalau kita mengatakan pribadi sang Pengantara hanya Ilahi saja, Inkarnasilah yang menjadikan-Nya pribadi yang kompleks, yang teridiri dari dua natur. Ia adalah Allah-Manusia.

Alasan melihat dua tokoh besar dalam agama Islam dan Kristen seperti di atas, adalah tidak lain dari memperlihatkan bahwa kedua agama itu memang berbeda dan tidak akan pernah sama. Perbedaan kedua agama ini begitu tajam, ketajamannya dapat dilihat baik dari tokoh terkemuka dalam masing-masing agama mereka seperti, misalnya Muhammad dan Yesus dan doktrin-doktrin yang dihidupi.

Jadi sekalipun berbeda, para penganut terutama para pemimpin dan golongan cendekiawan mesti memperhatikan konteks dimana mereka beragama. Dengan demikian setiap ajaran/  doktrin bisa kontekstual. Berdasarkan dengan tafsiran sesuai dengan konteks keIndonesiaan, setiap agama penting memperhatikan titik pertemuan mereka untuk berjumpa dan saling menerima keberadaan sekalipun berbeda paham.  Telah jelas titik temu itu, yakni setiap agama yang hidup, tumbuh dan berkembang di rumah Indoensia yang kita cintai ini harus berpaci pada ideologi negara yaitu PANCASILA.

Karena hanya dengan memandang PANCASILA, semua umat beragama bisa saling berdamai, bersahabat, dan hidup saling berdampingan. Dengan demikian toleransi beragama hidup dan tumbuh di negara kita. Sebab dalam perbedaan, baik beberbeda suku, agama dan ras, telah menjadi sebuah pondasi kekuatan apabli bersatupadu. DAn ketika kita bersatupadu, maka kita akan kuat dan tidak akan mudah dilemahkan.

Oleh sebab itu, upaya belajar ilmu agama, ilmu teologia mesti dimulai dari star nol. Dimana seorang harus menghidupkan teologinya di situasi tertentu bukan membawa teologi agamanya. Sebab penting melebur pemahaman yang parokial untuk bisa mengemas teologia dalam ilmu pengetahuan. Jika demikian, maka teologi itu menjadi dan bukan jadi. Dan apabila terjun ke lokasi sosial yang dinamis, maka teologi/ajaran itu bisa bertumbuh seiring dengan perubahan dan situasi dimana ia harus hadir.

Itulah sedikit “Representatif Tokoh dalam Agama Islam dan Kristen untuk Pancasila” yang bisa saya sharingkan kepada anda pada kesempatan ini. Semoga menginspirasi. Kami sangat senang dengan komentar anda bila anda merasa perluh. Salam Wassalam.

Sumber referensi:

Dikuti dari karangan Mark A. Gabriel, Ph.d, Yesus dan Muhammad: Perbedaan yang Mendasar dan Kesamaan yang Mengejutkan, (Kairo: Universitas Al-Azhar, 2003), hal.34.
Ahmad Deedat, Dialog Islam Kristen di Indonesia, (Jurnal: Dar-Es-Salaam, 1984), hal.11.
Lukas 1:46-49 dan Yohanes 1:1-3, Alkitab Perjanjian Baru, (Jakarta: LAI, 2012), hal 79 dan 129.
Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, (Jakarta: BPK Gunug Mulia, 2008), hal.115, 118.
Louis Berkhof, Doktrin Kristologi, (Surabaya: Momentum, 2015), hal. 43.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..