wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

PERBANDINGAN ANTARA MATIUS DAN MARKUS TENTANG PERCERAIAN

PERBANDINGAN ANTARA MATIUS DAN MARKUS TENTANG PERCERAIAN

Perceraian…, jika kita berbicara mengenai perceraian, kita mesti mengetahui apa itu perceraian. Terjemahan yang diberikan oleh KBBI, perceraian sama dengan putus hubungan antara suami dan istri yang kedua-duanya masih hidup. Arti yang lain adalah berpisah-pisah, berantakan dan tidak bercampur. Itulah pengertian secara umum.
Begitu banyak orang bercerai, bukan hanya suami dan istri yang berhenti dan tidak melanjutkan posisi sebagai sepasang yang lengkap, tetapi juga dengan seorang sahabat, seorang, ayah dan anak, dll., karena berbagai masalah yang mendesak dan mungkin tidak ada lagi jalan lain sebagai pilihan. Sebagaimana perceraian itu, di sini kita akan lihat, bagaiamana komentar injil Matius dan Markus, khususnya yang akan dilihat ialah, apakah perceraian itu menurut kedua injil itu. Inilah yang akan memandu kita dalam pembahasan selanjutnya.

Iman Kristen menjelaskan perceraian sebagai lawan dari kata perkawinan yang tersimbol kan pada sebuah hubungan dan keutuhan antara Tuhan dan manusia. Perceraian adalah noda terhadap perkawinan yang bersifat sacral. Itulah sebabnya, rangkaian pernikahan Kristiani dengan tegas menyatakan perintah terlarang pada suatu perceraian. Hal ini dapat kita lihat pada ritus pernikahan di gereja atau pun tempat lain seperti hotel dll., selalu ada dikte mengani rumus iman: apa yang di persatukan Allah tidak boleh di ceraikan oleh manusia. Inilah perceraian itu, yaitu adalah keterpisahan suami dan istri.
Sesuai dengan ketegasan gereja untuk suatu larangan perceraian, kadang kala perceraian tidak bisa dibendung. Suatu pernikahan yang dilanda masalah yang sulit diatasi dengan sabar, membuat beberapa orang memilih lebih baik berercerai, sekalipun ada dan mungkin tidak ada orang yang pernah berharap permenikahannya berakhir dengan perceraian, pengantin yang merasa selama ini was-was menghadapi hari-hari bahagia saat menika, toh masih terjadi perpisahan yang sah secara hukum. Jadi, problema sekarang ini khususnya konteks Matius dan Markus adalah “bolehkah orang bercerai?”

Dalam Matius 19:1-4, setelah Yesus selesai melakukan penyembuhan dan bertolak dari Galilea menuju Yudea, datanglah orang Farisi bertanya kepada Dia, katanya “apakah di perbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja”? Kalau dibandingkan dengan Markus 10:1-12, ada sedikit perbedaan dalam perumusan pertanyaan ini. Orang farisi itu bertanya, “apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Matius memulai kata “apakah di perbolehkan orang menceraikan”, sedangan Markus memaakai :apakah seorang suami”. Jawababn Yesus kenak dan Ia mengatakan bahwa sama sekali perceraian tidak di benarkan oleh hukum taurat. Sekalipun kalimat antara Matius dan Markus mungkin berbeda atau ada kata yang dipersingkat, itu tidak menghilangkan arti sama sekali, jawaban Yesus sama.

Di sini Yesus tidak memberikan jawababan tanpa masuk akal atau menjatuhkan suatu penilaian tanpa landasan kitab suci untuk mendukungnya. Pokok pemikiran yang di kemukakan oleh Yesus adalah ‘’jika suami istri telah di persatukan menurut kehendak dan ketentuan Allah, maka mereka tidak boleh di pisahkan begitu saja dengan alasan apa pun. Jika mereka itu tahu bahwa ikatan itu suci adanya, ikatan itu tidak muda di lepaskan begitu saja.

Di dalam ayatnya yang ke 7 di situ Orang-orang farisi itu tidak puas dengan penjelasan Yesus. Mereka kembali bertanya “apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?”, (Ul 24:1), di mana dalam pasal ini, Musa mengeluarkan surat cerai bagi orang Israel. Itu bararti dalam ayat ini Musa mengijinkan perceraian. Tetapi Yesus menjawab mereka dan Ia mengoreksi kesalahan mereka dengan hukum Musa, mereka menyebutnya perintah tetapi Yesus menyebutnya suatu izin atau kelonggaran saja. Yesus memberi tahu mereka mengapa ada alasan kelonggaran ini di berikan. Hal ini sama sekali bukan untuk menghormati mereka, melainkan “karena ketegaran hatimu, kamu di perbolehkan untuk menceraikan istrimu” Musa perna berkelu kesah mengenai bangsa Israel pada zamanya, bahwa mereka degil dan tegar tengkuk (Ul 9:6, 31:27)., suka menentang Allah, mengeraskan hati dalam hubungannya dengan Allah, mereka kejam dan liar baik dalam nafsu maupun kesenangan mereka.

Oleh karena itu jika mereka tidak di perbolehkan untuk menceraikan istrinya, jika mereka sudah tidak lagi menyukai istrinya, maka mereka akan memperlakukan istri mereka dengan kejam, mereka akan memukul dan menganiayanya bahkan mereka mungkin akan membunuh istri mereka sendiri. Dalam hal ini orang-orang Yahudi pada saat itu di kenal sangat buruksehingga mereka di perbolehkan untuk menceraikan istrinya,. Karena lebih baik mereka menceraikan istrinya dari pada mereka melakukan perbuatan yang lebih buruk lagi kepada istrinya.

Hukum positif dapat memberikan kelonggaran, maksudnya di sini ialah karena Allah menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Dalam hal ini kelonggaran dapat di berikan karena kita berurusan dengan orang-orang yang berhati keras dan keli. Kita tahu bahwa Tidak ada orang yang menginginkan kebebasan untuk bercerai, kecuali bagi mereka yang benar-benar hatinya keras. Kristus berkata karena ketegaran hatimulah, bukan hanya hati mereka yang hidup pada masa tersebut, namun semua keturunan mereka.

Dalam ayatnya yang ke 9 Ia memperbolehkan perceraian jika terjadi persinahan. Dasar hukum melarang perceraian adalah karena keduanya itu menjadi satu daging. Jika sang istri melakukan persundalan dan menjadi satu daging dengan seorang pezinah, maka dasar hukum tersebut tidak berlaku lagi. Menurut hukum Musa hukum untuk persinahan adalah hukum mati (Ul 22:22) akan tetapi juruslamat kita sekarang sudah meringankan hukuman yang berat tersebut menjadi perceraiaan sebagai hukumannya. Menurut Dr. Whitby, yang di maksudkan di sini bukannlah persinahan (karena Juruslamat menggunakan kata pornei-persundalan, melainkan hubungan badan di luar nika yang baru di ketahui setelah perkawinan, alasannya bahwa jika hubungan badan itu di lakukan setelah kawin maka itu sudah merupakan tindak kejahatan dengan hukuman mati. Ia melarang perceraian untuk semua alasan yang lain: barang siapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.

Dalam ayatnya yang ke 10-12 karena mereka sudah mendengar pengajaran Yesus, murid-murid-Nya mengatakan, “jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin karena mereka tidak rela melepaskan kebebasan dalam bercerai”, karena mereka beranggapan bahwa perceraian di perlukan untuk mempertahankan kenyamanan dalam kehidupan perkawian. Dari pendapat mereka ini, Yesus seolah-olah mengijinkan dan menganggap baik adanya bagi beberapa orang untuk tidak kawin, dan seolah-olah Kristus memperbolehkan apa yang di katakan oleh para murid, lebih baik jangan kawin, karena bagi Yesus kadang ada kebenaran dari ucapan murid-muridnya itu.

Demikianlah letak kesamaan tema antara Matius dan Markus. Perbedaannya tidak menjadi kelengkapan dan jawaban yang mengenak pada saat Yesus dalam Matius menjawab, dan di sisi lain ada ketidak puasan kita mengenai jawababan Yesus. Akan tetapi, setelah melihat kedua injil ini, sangat jelas bahwa perceraian di satu sisi tidak diperkenankan, tetapi di sisi lainnya yaitu dalam keadaaan darurat seperti terjadinya kekerasan secara terus menerus, cinta mulai kering, padam dan menjadi amarah, maka Yesus mengatakan bahwa baiklah orang bercerai dibanding ketika mempertahankan dan terjadi hal yang tidak lagi diharapakan, bercerai boleh saja, namun bukan sesuka hati, sebab itu adalah keserakahan.

Dan yang penting di sini ialah, perkawinan itu indah ketika kedua pasangan saling membina hubungan itu dibanding harus membuat masalah dan jatuh pada perceraian. Itulah sebabnya, warga Kristiani, sebaiknya berfikirlah secara dewasa dan hindari kebiasaan terburu-buru mengambil keputusan. Banyak sudah kejadian, yang mau rujuk kembali tetapi sudah terlanjur mengambil keputusan.
Semoga konsep yang kita miliki berdasarkan iman Kristen bisa terbangun dengan artikel ini. Khususnya para mahasiswa Teologia dan pendidikan Agma Kristen dan Pendeta, yang ada di Indonesia, sekiranya topik tentang PERCERAIAN ini berdasarkan teks Matius dan Markus di atas bisa terus digali lebih jauh lagi untuk tujuan pembelajaran dan pembinaan terhadap jemaat Tuhan yang ada di Indonesia di mana saudara bertugas. Terima kasih dan Kasih Tuhan menaungi keluarga saudara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..