wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

MENYISIR MASYRAKAT ADAT RONGKONG SALIAN BUNTU

MENYISIR MASYRAKAT ADAT RONGKONG SALIAN BUNTU

Hal ynag tidak bisa disangkali ialah bahwa pada zaman Luwu Rongkong menjadi salah satu objek sejarah Pajung Luwu pada perkiraan abad ke  3 (tiga) lalu sebelum zaman Sawerigading hadir di situasi kadatuan Luwu pada masa post Batara Lattu’. Hendak disusuri suatu keadatan Rongkong yang dipegang kukuh oleh Sendana Lalong sampai menjadi tangan kanan Pajung Luwu yang duduk di Istana pada masa itu.

Hasil gambar untuk tomakaka rongkong

Bahkan secara  turun temurun wariakan kedudukan itu terus dilimpahkan oleh LAlong kepada keturunannya Ne’ Malotong yang dengan nama Pong Lumombong yang didampingi  oleh saudaranya Ne’ Marua atau Marua. Sesudah mereka, warisan itu kemudian dilanjutkan oleh To Tandigau’ yang namanya menjadi penerus pimpinan perwakilan Rongong di Istana Datu di Luwu/ Luou’ sampai pada pimpinan Patuang dari Omboan Kanandede.

Hasil gambar untuk tomakaka rongkong

Namun dalam perkembangan kejayaan To Rongkong yang terus tumbuh di tanah berkat Lalong itu, hingga terus menyebar dan menempati tanah Salian Buntu (negeri di luar gunung Rongkong/ Buntu bai dan tabembeng). Kejayaan Rongkong bertumbuh seiring dengan keberanian dan kebajikannya yang leluasa memimpin dan menguasai daerahnya. Oleh sebab itu, Gelar termasyur yang sampai saat ini terus akan menjadi keabadian Rongokong adalah gelar Tanduk Matata’na Luo,u’ atau Luwu.

Hasil gambar untuk tomakaka rongkong

Gelar itu terus memerikan isyarat bahwa To Rongkong berjaya dan menjadi panglima besar pada zaman Pajung Luwu hingga menembus tana Poso. Kembali melihat penyebarannya, To Rongkong yang amat perkasa menyebar dan membentuk suau daerah keadatannya di Tana salian Buntu, dan sekarang disebut sebagai daerah Kecamatan SEKO Luwu Utara. Sampai di sana pun, keperkasaan itu terus tegak berdiri hingga muncul istilah bahwa “sangngadinna lasongka tu tananan tindak annala songka tu katomokakaan inde Buntu Manyaman” artinya kecuali patok tegu itu bisa tumbang barulah kejayaan to Mokaka di Buntu Manyaman ( Beroppa’) hilang di Seko Lemo.

Bahkan sampai sekarang, selain gelar dari pajung Luwu sebagai raja atau datu tertua di Sulawesi Selatan untuk To Rongkong masih terus dipegang tegu hingga pada tanggal 9 Januari 2016, rencana pembaharuan Datu Luwu digelar dan selenggarakan dan Pimpin oleh To Kanandede bersama rumpunannya pemimpin-pemimpin adat yang bertebaran di Luwu waktu itu. Bertanda bahwa sejarah tidak akan pernah mati di didalam hati To rongkong.

Hasil gambar untuk tomakaka rongkong

To Mokaka Lompo

Rongkong sebagaimana telah dikenal dengan suatu suku di Sulawesi Selatan yang masih serumpun dengan suku Toraja. Hal ini dibuktikan oleh pendekatan sejarah, dimana ciri khas bahasa dan pemimpin adatnya yang mengikatnya. Itulah sebabnya, dalam pembagian kesukuan yang serumpun, terdapat tiga komunitas adat yang masih sangat dekat, yakni Toraja, Mamasa, dan To Rongkong. Pendekatan ini dikemas dalam penggunaan baik bahasa, sejarah Asal Usul, dan adat.

Toraja = di pa’nasuan, Mamasa = dipa’bo’boran, Rongkong = to dipa’nasuan. arti kata tersebut adalah orang yang di sajikan makanan. Bahasa ini mengadung makna paling dalam, yaitu, masyarakat adat yang masi Serumpun ini sangat menjunjung tinggi kepala adat selaku kepala suku mereka. Sikap ini masih dipegang dan diterapkan di ketiga masyarakat adat sampai sekarang ini. Yang mana, penggunaan bahasa di atas diperggunakan ketiga-tiganya. Di mana Toraja juga menggunakan bahasa Mamasa, dan Rongokong. Demikian sebaliknya.

 

Rongkong = to mokaka. Satu gelar kepada pemimpin suku. Sekalipun di akui, bahwa di daerahsalian Buntu yakni tanah SEKO, masih ada tujuh daera adat yang menggunakan gelar To bara’.

Semua gelar di atas adalah sejajar dan tidak ada yang di bawah atau di atas. Dan hal yang paling di utamakan adalah kerja sama dan saling menghormati satu dengan yang lain.

tulah sebabnya, daerah adat yang didiami oleh sekumpulan orang di bawah satu pimpinan suku Rongkong masih terbagi lagi daerah masing-masing adat dengan pemimpinnya, salah satunya To Buntu Manyaman atau Beroppa’, dengan gelar adat Rongkong salian SALIAN BUNTU. Gelar ini diberikan oleh saudaranya To Tandigau’ usai Sendana Lalong. Yang dalam sejarahnya sampai keturunnnya Ne’ Malotong dan turun ke Patuang, gelar datu Luwu, Rongkong adalah panglima kumando dan Tanduk matata’na Luwu.

Jadi, apabila anda mendengar gelar adat salian buntu, maka yang dijuluki demikian adalah To Beroppa’ To Buntu Manyaman. Itulah informasi singkat tentang BUNTU MANYAMAN ADAT SALIAN BUNTU yang kami paparkan berdasarkan , tidak lain gelar dan sebutan adat itu adalah untuk daerah adat To Beroppa’ To Buntu Manyaman.

 

Hasil gambar untuk tomakaka rongkong

 ADAT BEROPPA’ TO BUNTU MANYAMAN SALIAN BUNTU

Itulah sedikit informasi singkat tentang sejarah MENYISIR MASYRAKAT ADAT RONGKONG SALIAN BUNTUA hingga Menguasai Seko Lemo daerah adat To Beroppa’ To Buntu Manyaman. Daerah adat Salian Buntu, dengan nama Buntu Manyaman telah digelari oleh To Bara’ sebagai tanduk matata’na Seko.

Disusun oleh:

Sarman El Tinulu’ bijanna Puang Pasule (Omboan) dan Ru’tung Langi’ (Manganan) Tana Rongkong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..