wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

KAUNAN DAN TO MA’DIKA

Tinjauan Kritis Mengenai Dampak Status Sosial Kaunan dan To Ma’dika dalam Kaitannya dengan Kehidupan Bermasyarakat

oleh

Fransiska Satria Melda, S.Th

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Status sosial adalah keberadaan atau kedudukan seseorang dalam hidup bermasyarakat yang ditentukan oleh strata sosialnya. Keberadaan atau kedudukan ini menunjukkan posisi seseorang di antara banyak orang atau dalam kelompok sosial tertentu. Dapat dikatakan bahwa kedudukan sosialnya dapat mengikat secara turun-temurun dan dianggap tidak bisa dihindari.
Status sosial juga adalah pembentukan dari adat-istiadat dan kebudayaan lapisan masyarakat yang hidup di suatu daerah yang diikat oleh norma-norma yang dibentuknya. Dengan adanya lapisan sosial ini, keberadaan masyarakat tampil secara umum sebagai masyarakat yang heterogen.
Adat bararti kebiasaan sesuatu yang di kenal, yang di ketahui dan sering berulang dilakukan, adat adalah kebiasaan yang diwariskan sejak dari nenek moyang kepada anak cucunya turun temurun, yang sudah berurat dan berakar dikalangan masyarakat yang bersangkutan. Orang –orang tua sering mengawasi pelaksanaan adat itu dari generasi kegenerasi sebagai tata tertib yang suci dan pantang untuk dilanggar. Dengan demikian maka adat dipandang sebagai pangkal ketertiban dan keserasian dalam masyarakat, himpunan norma-norma yang sah harus dijadikan pegangan sebagai perilaku seseorang , jadi adat menetapkan apa yang diharuskan, dibenarkan atau diizinkan dan yang dilarang.
Masyarakat Toraja adalah sekumpulan orang-orang yang hidup di daerah Toraja Sulawesi Selatan, di bawah status sosialnya yang sangat kuat mengikat. Orang-orang Toraja ini memiliki empat strata sosial yang tadi dikatakan sangat mengikat secara turun-temurun. Strata sosial dalam masyarakat ini disebut tana’ yang ditentukan oleh kebudayaan mereka. Tana’ ialah suatu patokan atau ketentuan status dalam masyarakat toraja. Empat strata sosial (tana’) yang dimaksudkan yaitu, tana’ bulaan, tana’ bassi, tana’ karuru, dan tana’ kua’-kua’. Strata sosial ini merupakan warisan adat leluhur orang Toraja secara-turun-temurun pada umumnya.
Sebagaimana lasimnya orang Toraja dalam Tongkonannya selalu menyebut, mengajarkan dan memberitahukannya kepada anak cucunya dalam ungkapan: nasedanmi nene’ tu kada susi sarong natoke’ tambane baka tu bisara, kumua E….kamu bati’ siosso’ku anak ampo mimi’ kandaureku, kilalai, robok oi, sulunnii da’ anna diong padang da’ anna bai uai. “Pesan leluhur tersimpan abadi seperti digantungkan pada tiang penyangga bahwa hai kamu anak, cucu cicitku, keturunan darah dagingku, ingatlah, peliharalah supaya jangan jatuh ke tanah dan jangan dihanyutkan air”.
Ungkapan di atas mengandung pesan yang memiliki makna yang dalam, bahwa apa yang telah ditanamkan oleh para leluhur orang Toraja seperti kebiasaan, larangan, dan lapisan-lapisan yang telah lama diterapkan, khususnya pada kebiasaan penerapan lapisan to kaunan dan to ma’dika tidak akan pernah hilang selama pesan itu masih dipahami sebagai warisan leluhur yang berlaku turun-temurun.
Pesan ini harus diingat dan dilakukan jangan sampai hilang atau lenyap. Dengan ungkapan ujaran nenek leluhur yang selalu disebut-sebut para tua-tua Toraja kepada anak cucunya itu merupakan suatu warisan yang kini menjadi dasar orang Toraja dalam menata, mempertahankan, dan menjaga kebiasaan-kebiasaan mereka. Khususnya mengenai strata sosial yang sudah lama hidup di tengah-tengah orang Toraja, menunjukkan bahwa “To Ma’dika dan Kaunan” benar-benar membalut tubuh orang toraja atau benar-benar ada dan hidup berkembang di daerah Toraja. Menunjukkan bahwa status kaunan dan toma’dika benar-benar hidup, dan berkembang dalam kebudayaan orang Toraja.
Di dusun Puru, lembang Rano Utara, Kec. Rano, To Ma’dika dan to Kaunan masih sangat kental. Masyarakat yang ada di sana ada di bawah tiga lembaga, yakni gerja, pemerintah, dan adat. Kecenderungan menjadi permasalahan di sana adalah dampak keberadaaan tana’ kua’kua’ dengan tana’ bulawan, atau kauan (kelas budak) dan to ma’dika (kelas bangsawan).
Dampak permasalahannya adalah gereja secara tegas melarang pemberlakuannya, sementara adat menolak larangan tersebut. Dampak-dampak yang terjadi adalah perselisihan dari berbagai segi, baik perkawinan, pelayanan, dan pemerintahan selalu menjadi perselisihan secara sosial. Seperti , perkawinan antara kedua status yang berbeda ini tidak diijinkan dalam adat, sementara dalam gereja tidak ada masalah, dan pemerintah tidak mempersalahkannya. Vatalnya, banyak anak yang terlantar karena perceraian disebabkan oleh kondisi tersebut.
Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, masyarakat yang hidup dalam suatu daerah mesti memiliki suatu norma yang bisa menghantarnya saling berdamai, bersahabat, dan saling mencintai dalam perbedaan. Masyarakat yang heterogen mesti bisa membangun konsensus nilai yang bisa menciptakan kesejahteraan dan ketertiban untuk diwariskan kepada generasinya. Jika permasalahan strata sosial khususnya di dusun Puru tidak disediakan jalan keluar maka permasalahan sebagaimana yang sudah diuraikan di atas sulit diatasi.
Dengan beberapa alasan di ataslah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti perihal kaunan dan to ma’dika, di bawah sub judul penelitian Tinjauan Mengenai Dampak Status Sosial Kaunan dan To ma’dika dalam Kaitannya dengan Kehidupan Bermasyarakat di Dusun Puru Lembang Rano Utara, Kec. Rano, Kab. Tana Toraja.
Sekiranya dalam mengangkat proposal skripsi ini, bisa menjadi salah satu solusi bagi masyarakat Toraja dalam menghidupi tatanan ke-adat-an mereka. Gereja khususnya mesti bisa menjadi cahaya dalam menyikapi keadaan kedudukan sosial di mana ia hadir. Jika gereja salah melangka mengambil sikap, maka kesulitan hidup bermasyarakat pun bisa semakin para.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan di kaji oleh penulis adalah bagaimana Gereja Toraja seharusnya menyikapi dampak status sosial kaunan dan toma’dika yang terjadi di dusun Puru, lembang Rano Utara, Kec. Rano, Kab. Tanah Toraja?
C.TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang hendak dicapai penulis dalam tulisan ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji sikap gereja Toraja terhadap dampak status sosial kaunan dan toma’dika di dusun Puru, lembang Rano Utara, Kec. Rano, Kab. Tanah Toraja.
D. MANFAAT PENULISAN
1. Manfaat Akademis
Tulisan ini diharapakan bisa menjadi sumber data dan teori keyakinan dan keadatan budaya Toraja dalam bidang akademik. Bahwa para dosen dan mahasiswa penting mengkaji budaya pribumi yang ada disekitarnya, untuk bisa mengembangkan dan membangun nilai budaya untuk dunia masyarakat adat. Selain daripada itu, melalui tulisan ini, pengambilan peran dalam mempoisikan diri sebagai mahasiswa yang akademik bisa dekat dengan budaya, supaya budaya itu tidak menjadi liar dan dianggap musuh.
2. Manfaat Praktis
Manfaat penulisan proposal skripsi ini adalah untuk menjadi pedoman generasi gereja Toraja dalam menyikapi permasalahan adat khususnya pada status ssosial kaunan dan To ma’dika , tidak hanya di dusun Puru tetapi juga diharap dapat merambat pada daerah-daerah Toraja lainnya, supaya baik adat maupun gereja bisa mendapat tempat yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.
E. METODE PENELITIAN
a. Jenis Penelitian
Untuk mewujudkan masalah dan solusi dalam penulisan proposal Skripsi ini, maka penulis memilih jenis penelitian kualitatif.
b. Metode penelitian kepustakaan
penulis menggunakan beberapa referensi data melalui buku bacaan seperti, Alkitab, internet, jurnal dan hasil penelitian lainnya.
c. Wawancara
Wawancara adalah percakapan langsung dengan responden dengan maksud tertentu.Percakapan itu dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (intrviewee) yang memberikan jawaban.
F. LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian yang penulis tetapkan terletak di Dusun Puru, Lembang Rano Utara, Kecamatan Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja.
G. SISTEMATIKA PENELITIAN
Untuk mempermudah penulisan, penulis membagi beberapa poin Bab di antaranya:
Bab I: Bab ini berisikan pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode pebelitian dan lokasi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II: Bab ini berisikan landasan teori khusus membahas seputar pengertian dan definisi tentang topik.
Bab III: Bab ini berisikan metodologi penelitian dan pemaparan hasil penelitian.
Bab IV : Bab ini berisikan hasil penelitian penulis
Bab V :Kesimpulan dan Saran

Baca Bab II selanjutnya “Tinjauan Kritis Mengenai Dampak Status Sosial Kaunan dan To Ma’dika”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..