wisatakotajogja.com

Seputar Dunia Online

NILAI BUDAYA MASSURU’ TONDOK DALAM KEYAKINAN ALUK TO DOLO

NILAI BUDAYA MASSURU’ TONDOK DALAM KEYAKINAN ALUK TO DOLO. Judul ini dipilih sebagai ajakan pentingnya mengkaji makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Massuru’Tondok  mengambil peranan penting dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis dengan leluhur yang hidup didalam air atau biasa di sebut rindu (kembaran) di Gesseng.

NILAI BUDAYA MASSURU' TONDOK DALAM KEYAKINAN ALUK TO DOLO

Budaya ini dilakukan 2 kali setiap tahunnya oleh masyarakat Gesseng, waktu pelaksanaannya mereka sebut “Randuk Allo” dan “Tappak Allo” termasuk keluarga saya. Sehingga, salah satu alasan utama untuk memilih judul ini adalah karena hingga pada saat ini masih sebagian besar keluarga yang menganut kepercayaan  Aluk Todolo (termasuk ke 2 orang tua) dan ritual ini masih terus dilakukan.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan langsung yang saya amati sejak kecil hingga dewasa  ikut serta bersama bapak sebagai “To Parengnge’Tondok” saat ritual ini sedang dilakukan, saya dapat mengungkapkan bahwa makna budaya “Massuru’Tondok”  mengambil peranan penting dalam memperbaiki dan menjaga relasi yang harmonis dengan Sang Pencipta, Sang Pemilik, Para Leluhur,  Sesama  dan bahkan alam sekitar. Nilai-nilai dalam ritual ini tetap direinterpretasikan dalam kehidupan kekristenan di daerah tersebut untuk menciptakan dan mempertahankan tatanan hidup yang harmonis.

Oleh karena itu saya tertarik untuk meneliti budaya ini lebih mendalam, dan berencana menghubungkan atau mencari apakah ada pengaruh yang ditimbulkan oleh budaya “Masssuru’Tondok” ini dalam realita kehidupan Kristen yang ada di desa tersebut, karena sampai sekarang bahkan orang-orang yang sudah menganut agama Kristen pun masih ikut serta dalam melakukan ritual ini. Dengan demikian saya berkeinginan untuk menjadikan budaya “Massuru’Tondok” ini dan pengaruhnya terhadap realita kehidupan Kristen menjadi pilihan judul dalam rangkah penyusunan artikel pada periode ini.

NILAI BUDAYA MASSURU’ TONDOK DALAM KEYAKINAN ALUK TO DOLO

LATAR MASALAH

Agama pada dirinya sendiri hanyalah sebuah ajakan. Sebagai ajakan, ia hanya menawarkan pilihan anatara mempercayai atau mengingkari. Ia sama sekali tidak memuat paksaan, kecuali sebuah konsekuensi logis bagi pemeluknya. Sebaliknya, terhadap mereka yang tidak mempercayainya, agama tidak memiliki hak tuntutan kepatuhan apapun, apalagi paksaan. Namun, begitu agama di formalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin maupun lainnya, ia muda terjebak instrumentalisasi kepentingan, baik kepentingan yang mengatasnamakan “suara Tuhan” sebagai suara kekuasaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan agama sebagai legitimasi. (Anas Saidi ~ed~2004, hal.1).[1]

Masyarakat kita dewasa ini dihadapkan dengan masalah-masalah sosial yang tidak leps dari kekuatan-kekuatan (social) yang bersumbar dari dunia keagamaan. Dari masalah keterbelakangan pendidikan dan pengajaran, dari persoalan buta huruf sampai masalah kekurangan guru dan gedung sekolah. Belum lagi problem besar kemiskinan baik apa yang disebut kemiskinan structural maupun non structural yang dapat dipastikan ada kaitannya dengan unsur-unsur “credo”keagamaan dan kepercayaan yang dianut oleh pemeluk-pemeluknya, dan yang diterima dengan relah dan tidak rela sebagai suatu nasib yang dikehendaki Tuhan. Bahkan dewasa ini semakin disadari banyak cendekiawan yang yakin bahwa fenomena social yang disebut ras,agam, suku, merupakan problem nasional yang berat. Disamping itu masih dapat diketengahkan kasulitan-kesulitan yang bersumber pada masalah cultural. [2]

Dewasa ini juga masih banyak ditemukan unsur-unsur agama Suku dalam jemaat-jemaat Kristen. Perbuatan bernuansa magis dan kecenderungan mementingkan peraturan-peraturan hukum masih banyak ditemukan dikalangan jemaat-jemaat (khususnya di Gesseng daerah pekabaran Injil wilaya Padang Alla’).

Kebudayaan masyarakat Gesseng sarat akan nilai-nilai dan hukum adat yang menurut  mereka budaya itu adalah warisan dari nenek moyang yang harus dilanjutkan bagi mereka yang ditugaskan untuk mewarisi dan memegang adat itu. Yang menjadi pemimpin Agama atau adat itu, tidak dimiliki banyak orang, tetapi itu dimiliki bagi orang-orang tertentu (Keturunan To Makaka atau To Ma’dika). Di Desa itu masih ada istilah antara “Bati’ To Makaka” dan (Bati’ To Kaunan). Maka yang mengambil bahagian dalam melaksanakan ritual “Massuru’Tondok” ini adalah keturunan “To Makaka”.

Ritual “massuru’tondok’’ adalah salah satu tradisi yang unik dan sangat menarik di Masyarakat Gesseng, Dusun Sangsaluan, Desa Mesakada, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, yang sampai saat ini belum begitu dikenal oleh masyarakat luar karena budaya tersebut belum perna  dibawah ke luar.

“Massuru’ Tondok”  adalah budaya peralihan dari “rambu tuka’”dan “rambu solo’”. Ritual “Massuru’ Tondok” ini adalah ritual tahunan yang di dalamnya terkandung ada 12 Dewa dan ada pun 12 macam bulu ayam yang juga diperhitungkan adalah kakinya dengan masing-masing tujuan tiap-tiap Dewa.Yang pertama dilakukan adalah berkumpul untuk membuat kesepakatan kapan hal itu dilakukan dan masing-masing membawa 1 atau dua ekor ayam sesuai pengakuan dan kemampuan. Ritual “Massuru’Tondok” ini merupakan puncak penyembahan “Aluk To Dolo” di masyarakat Gesseng karena di dalamnya tercakup semua dewa-dewa yang dipercayai bahwa mereka memiliki tugas masing-masing dan Dewa yang disembah mereka. Budaya “Massuru’ Tondok” ini dilakukan 2 kali dalam setahun pada waktu yang biasa disebut “randuk allo” mereka pahami sebagai waktu penanaman untuk dinikmati dikemudian hari dan “tappak allo” adalah waktu sengsara yang biasa disebut “karorian” dan massyarakat Gesseng menyebutnya “kalorian” maka disitulah kita makan dari hasil usaha waktu “randuk allo”.

Sebelum melakukan ritual massuru’ tondok ada namanya ma’somba-somba, yang biasa disebut somba kasuyuan atau kamarammunan padang dan juga mungkin ada kesalahan kaki dan pikiran dan tingkalaku, hal ni dilakukan secara keseluruhan dari rumah ke-rumah dengan tiap rumah menggunakan 4 butir telur. Telur ini dibagi menjadi 2 bagian, yang 2 butir telur ditaru ke-arah utara  dan 2 ke-arah  selatan, ketika  selesai ritual ini dilakukan daun yang dipakai dan kulit telur digantung di didepan pintu rumah kanan dan kiri dengan menggunakan benang puti disetangkai batang kayu mali-mali dan batang kayu “roeng” dan juga ada 3 bulir padi beserta daun siri dan bua pinang yang digantung di depan pintu rumah samping kanan ,  dan disamping kiri ada  jewaut yang biasa juga disebut “ba’tan” beserta daun siri dan juga buah pinang. Hal ini dipercayai bahwa dengan begitu, tidak sembarang orang yang masuk dalam rumah itu “berniat jahat”.

  1. Ada 12 bulu ayam yang digunakan yaitu;
  2. Ayam betina yang bulunya kuning campur puti dan hitam kakinya, yang biasa disebut “manuk rame, ettek lotong atau karurung”. Ayam ini ada dua digunakan, 1 untuk malam yang biasa disebut “pa’tomatuan atau uttammu bukunna sia rarana” dan 1 untuk siang atau puncak penyembahan ditujukan kepada sang pemilik tanah biasa disebut “To Ma’litak”.
  3. Ayam jantan yang bulunya warna mera dan puti kakinya, yang biasa disebut “manuk malea”. Ditujukan kepada “Puang Matua atau Tokumombong”.
  4. Ayam jantan yang bulunya warna mera tetapi kakinya warna hitam, yang biasa disebut “manuk lappung”. Ditujukan kepada Sang Pencipta yang biasa disebut “totumampa atau tomenggaraga”.
  5. Ayam jantan yang bulunya warna mera campur hitam dan kakinya hitam, yang biasa disebut “kalliabo”. Ditujukan kepada roh yang mendiami setiap pribadi dan biasa disebut “To Mangkambi’”.
  6. Ayam betina yang bulunya kuning campur hitam dan puti, yang biasa di sebut “ramewai”.ditujukan kepada Sang Pemilik air yang biasa disebut “kalimbuang”.
  7. Ayam betina yang bulunya warna hitam dan juga kakinya hitam, yang biasa di sebut “manuk bolong”. Ditujukan kepada Sang Pemilik hutan yang biasa disebut “toma’kayu”.
  8. Ayam betina yang bulunya hitam campur puti, yang kakinya puti yang biasa disebut “manuk buriktik”. Ditujukan kepada leluhur yang biasa diucapkan  “ludekke karua atau karua ulunna salu”.
  9. Ayam betina yang bulunya kuning campur hitam dan putih yang kakinya kuning campur hitam, yang biasa disebut “tallang mata’ “ atau “manuk Baraba” ditujukan kepada dewa yang menopang tana atau biasa disebut “topatulak manda’”
  10. Ayam yang bulunya antara hitam dan biru yang kakinya hitam yang biasa disebut “manuk bullau” ditujukan kepada “indo’ lo’dok” yang mereka percaya bahwa dia yang sering menyembunyikan sesuatu dan juga biasa mereka sebut “to ma’buni buni”.
  11. Ayam yang bulunya warna puti dan kakinya juga puti yang biasa disebut “manuk busa’” ditujukan kepada penyebar ulat atau pencipta cacing.
  12. Ayam yang mera bulunya tapi kakinya kuning yang biasa disebut “manuk bakka’ sendana” ditujukan kepada leluhur yang pertama kali, menuju ke matahari atau biasa disebut “ to lulako kabu’tuan allo”.
  13. Ayam yang bulunya warna hitam dan kakinya hanya jari tengahnya yang kuning ujungnya atau biasa disebut “manuk bolong mariri datunna”ditujukan kepada leluhur yang ditempatkan di pinggir langit yang menanti terbenamnya metahari atau biasa disebut “ to lulako biring langi’ upparandan kakaburan allo”.

NILAI MASSURU TONDOK

Ritual “massuru’ tondok” ini dilakukan dilakukan dua kali dalam setahun  yang mereka sebut “randuk allo” dan “tappak allo”. Budaya “massuru’ tonndok” ini berbeda dari penyembahan “massuru’”. Kata “massuru’” ini berarti “massero kale” berarti ritual tersebut hanya dilakukan oleh sekeluarga saja jika merasa bahwa ada sesuatu yang mereka perbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama atau adat tersebut.

Tujuan dari ritual “Massuru’ Tondok” ini bahwa banyak hal-hal tertentu yang memiliki penguasa tersendiri, namun begitu banyak orang yang hidup dalam Kampung itu dan tidak bisa dipungkiri bahwa semua orang tidak perna berbuat salah makah dari itu disatukan dalam ritual ini permohonan petunjuk dan perlindungan pada “Puang Matua”, memberi makan leluhur yang sudah “Membali Puang” dan mengaku dosa jika ada kesalahan enta sadar atau tidak sadar misalnya; main kaki, main tangan atau panjang tangan, punya pikiran jahat dengan demikian ada pengharapan supaya diampuni. Sekalian berjanji untuk tidak mengulangi lagi dan sekali pun mereka melanggar peraturan berarti siap menerima sanksi sesuai dengan kesepakatan saat melakukan ritual “massuru’ tondok” itu.

Selain dari pada itu, tujuan dari ritual “massuru’ tondok” adalah untuk kembali melakukan suatu perhimpunan dan saling mengingatkan bahwa dalam kehidupan kita ada yang berkuasa di atasnya maka dari itu menjadi suatu kewajiban bagi masyarakt untuk saling mengingatkan agar jangan lalai dalam menjalani kehidupan terlebih khusus bagi masyarakat Gesseng, Dusun Sangsaluan, Desa Mesekada, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Budaya ini masih sangat kuat dan menjadi kepercayaan mayoritas se Mesakada.

Sumber artikel :

[3]

[1] Achmad Rosidi, Perkembangan Paham Keagamaan Lokal di Indinesia (Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Jakarta 2011), hal.181.

[2] Drs. D. HENDROPUSPITO, O.C., SOSIOLOGI AGAMA, (YAYASAN KANISIUS 1983: B. P. K. GUNUNG MULIA Jl. Kwitang 22), hlm 12.

[3] Wawancara Melalui Media Telpon pada tanggal 03-11-2016 dengan Bapak dari penulis Kamisi’ atau Ambe’ Banna di Gesseng yang perna menjadi “To Parengnge’ Tondok” di Gesseng daerah pekabaran Injil wilaya Padang Alla’.A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Kota Jogja © 2018 Frontier Theme
error: Copas Lagi ? Gue tabok lu..